Takwa merupakan perhiasai hidup kita yang hakiki dan takwa kepada Allah merupakan bekal yang sangat jitu untuk dibawa ketika kita menghadap kehadirat Ilahi.
Islam adalah agama yang yang universal, tidak hanya mengatur hubungan antara sang hamba dengan kholiq-nya dan tidak hanya mengatur dalam menempuh hidup di akhirat akan tetapi Islam mengatur pemeluknya bagaimana cara menghadapi kehidupan di dunia ini.
Islam telah meletakkan dasar keseimbangan hidup dunia dan akhirat, tidak rela membiarkan pemeluknya hanyut dalam arus dunia sehingga melupakan kehidupan yang sebenarnya yakni di akhirat kelak.
Kita sebagai umat Islam diwajibkan berikhtiar untuk mencari harta kekayaan, ilmu, pangkat atau kedudukan, tapi itu semua bukan tujuan yang utama, namun hanya sebagai alat atau jembatan untuk hidup di dunia. Harta dicari tapi bukan untuk dicintai setengah mati. Pangkat dicari tapi bukan untuk di sayangi melebihi segalanya hingga melupakan tujuan yang sebenarnya.
Agama Islam sangat mencela kepada orang yang hidup di dunia hanya mementingkan kehidupan akhirat saja sementara dirinya, anaknya, istrinya dan keluarganya hidup terlonta-lonta, compang-camping minta bantuan kesana-kemari tidak mau usaha atau bekerja. Padahal ajaran Islam telah memberikan garis pedoman agar kita terhindar dari bahaya dan kehancuran dan agar kita tidak melupakan dunia.
Dalam hubungannya dengaan ini ada kata2 mutiara seorang ahli hikmah yang patut kita renungkan dan telaah sedalam-dalamnya.
Manusia memburu dunia tapi dunia itu menipu
Manusia memburu pangkat tapi pangkat itu menipu
Manusia memburu harta tapi harta itu menipu
Dunia, Harta dan Pangkat tidak akan menipu apabila manusia menyadari bahwa ketiganya itu sebagai jembatan menuju kesempurnaan hidup yang hakiki dengan jalan mendekatkan diri pada Allah agar kita tidak tercela karenanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar